Tuesday, January 31, 2012

stop complaining!

Saya menulis ini tepat setelah saya mematikan TV. Setelah saya melihat suatu acara yang dibawakan oleh Olga. Di acara itu, Olga menemui seorang nenek penjual bubur sumsum. Nenek tua yang terlihat dari raut wajahnya yang mengisyaratkan betapa lelahnya nenek tersebut di usia yang sudah tak muda lagi, tapi masih harus memikul beratnya panci berisi bubur yang harus ia jual untuk menghidupinya seorang diri. Ya, nenek tersebut berjuang untuk menghidupinya sendiri. Suami yang meninggalkannya untuk selama-lamanya, dan anak-anak nenek yang nenek tinggalkan karena dianggap sudah tak mau merawat dirinya.

"Nenek sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini" begitu katanya. Awalnya, saya kira memang sudah tidak memiliki satu keluargapun karena keluarganya sudah meninggal. Ternyata tidak, "anak-anak nenek marah sama nenek "ORANG TUA BISANYA MINTA-MINTA AJA KE ANAK" jadi nenek memutuskan untuk pergi, dan menghidupi nenek seorang diri." Saya sungguh tak menyangka kalau perkataan tersebut akan keluar dari mulut nenek.

Saya belajar tentang pengabdian. Pengabdian kepada orang tua. Saya akui saya bukanlah anak yang nurut sama orang tua. Sering saya mengeluh ketika orang tua saya menyuruh saya ketika misalnya saya sedang mendengarkan musik, bbm-an, atau hal-hal lain yang saya fikir cukup menyenangkan dan idak ingin diganggu oleh siapapun. Tetapi saya sadar, baru saja setelah menonton acara tersebut. Bahwa ketika orang tua kita menyuruh kita untuk membantunya, itulah kesempatan untuk kita untuk mengabdi kepada orang tua. Untuk patuh kepada orang tua. Hitung-hitung ibadah selama masih ada orang tua. Selama masih dibutuhkan oleh orang tua. Karena ketika orang tua kita sudah tidak ada, kepada siapa lagi kita akan mengabdi? Negara? Terlalu muluk-muluk saya rasa.

Di acara tersebut sang nenek bercerita bahwa pendapatan sehari dari menjual bubur hanyalah Rp. 25.000. Hasil dari penjualan digunakan untuk makan sehari-hari, membayar kontrakan, dan belanja kebutuhan untuk membuat bubur lagi untuk mendapatkan uang lagi tentunya.

Sang nenek juga bercerita dia pernah sakit selama dua bulan lamanya sehingga tidak bisa berjualan sampai akhirnya dia menunggak pembayaran rumah kontrakan dan sang pemilik kontrakan mengancam akan mengusir nenek jika tidak membayar. Karena nenek tidak ingin diusir, maka nenek memutuskan untuk tetap berjualan dengan kondisi yang lemah. "Ya Allah, kuatkan kakiku serta tubuhku sehingga saya dapat berjualan untuk membayar kontrakkan, Ya Allah". Begitu doa nenek ketika merasa sudah terlalu letih untuk berjualan. Hal ini mengajarkan saya bahwa mencari uang itu susah. Saya sadar kalau selama ini, belum bisa saya menghasilkan uang dengan keringat saya sendiri, kerjaan saya malah hambur-hamburin uang untuk hal yang sebenarnya kurang penting.

"Saat nenek sakit, nenek berdoa sama Allah untuk menyembuhkan nenek atau mengambil nyawa nenek saja. Sehingga nenek tidak terus-menerus menyusahkan tetangga". Saya terenyuh mendengar perkataan itu. Sungguh nenek tua yang seharusnya bersantai dirumah menikmati sisa hidupnya, ini malah bekerja sangat keras untuk menghidupi dirinya.

Saya lantas membandingkan dengan kehidupan saya yang seringkali saya anggap bahwa saya memiliki kehidupan yang tidak sempurna. Mulai mencari perbedaan dengan kehidupan orang lain dan mencari kekurangan yang ada pada diri saya. Untuk apa? Untuk mengeluh. Mengeluhkan apa yang ada pada kehidupan kita karena merasa kurang atas apa yang sudah kita miliki.

Pentingkah mengeluh? Mengeluh bukanlah cara terbaik untuk mengubah sesuatu. Saya tidak mengatakan bahwa "life is smooth, perfect, and straight." Tidak, memang. Kadang kehidupan membosankan, menjengkelkan, tidak sesuai harapan, mulai bertanya kenapa semua ini terjadi pada kehidupan saya, bukan yang lain? Mengapa orang-orang itu sangat beruntung? Mengapa aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan? Setelah melihat acara tersebut, saya baru sadar bahwa hidup kita sudahlah sempurna. Just remember, diatas langit masih ada langit. Diabawah tanah masih ada tanah.


Jadi berfikirlah berjuta-juta kali ketika ingin mengeluh. See this picture below? Kalau kita mengeluh atas apa yang ada pada diri kita, bagaimana dengan mereka?


Kadang pernah ga sih kita mikir, kalau kita nggak pernah ngerasa pahit, kita ga akan bener-bener tau rasanya manis. We learn that people can't avoid pain, suffer, or even lost. But life also teach us, bahwa kita ditakdirkan untuk dapat menghadapi berbagai macam cobaan. Just don’t give up. Stop complaining anythings. Just let God handle it. And everything's gonna be wonderful in time.

God knows the best.

___________________________________________________________________________________
photo source: googledotcom



Monday, January 30, 2012

wedding invitation!


So hwallow guys, yeah you know, this is the cutest yet the longest wedding invitation I've ever seen. Not really sure about the length, but it is. Sorry about the picture size, tapi ini tuh memang zooper dooper cute banget, sampe-sampe diceritain awal mereka ketemu, perjalanan serta perjuangan. Manis pahitnya cerita mereka pacaran sampe akhirnya menikah. Dan yang bikin undangan ini lebih unyu lagi tuh karena disitu diceritain perjuangan bride and groom yang ternyata Long Distance Relationship FOR ABOUT SEVEN YEARS. Nilai tambah lagi, kan?

Jadi inti undangannya itu ya itu, yang ada dibawah. Yang diatas sih cerita tentang perjuangan sang bride and groom. Mungkin bisa jadi inspirasi buat kalian. Kreatif banget idenya XD

P.s. Kalo mau liat dari deket, klik aja gambarnya, bisa dibaca dengan jelas kok ehe

__________________________________________________________________________________
photo source: shannoneileenblog


Saturday, January 28, 2012

Aku Mau Kuliah!

Akhir-akhir ini sering mendengar obrolan adik-adik kelas XII yang akan segera lulus dan akan memasuki bangku perkuliahan. Atau obrolan ibu-ibu mereka yang ikut sibuk ngurusin anaknya yang mau masuk universitas yang terbaik dari yang terbaik.

Gue jadi inget kalau gue pun pernah mengalaminya. Sibuk meributkan ingin masuk universitas ini dan itu. Yang terbaik (manurut saya, dan memang sudah diakui terbaik di Indonesia). Dulu, yang ada di otak gue saat ingin memilih universitas, yang terlintas adalah universitas yang sudah memiliki nama (itu pasti). Korban gengsi, mungkin? Entah apa namanya, yang pasti mindset gue adalah kuliah di universitas ternama adalah (termasuk) prestasi yang membanggakan. Sampai gue tidak terlalu menghiraukan universitas yang ada di Kota gue sendiri.

Sampai pada akhirnya pun gue memang masuk universitas yang tidak terlalu punya nama. Banyak yang tidak tau dimana kampus saya berada walau kampus saya adalah kampus negeri bukan swasta. Tapi, kampus gue adalah satu-satunya kampus negeri di provinsi Banten. Awalnya sih (agak) minder dengan teman-teman yang kuliah di universitas ternama di Indonesia. Tapi lama kelamaan gue mikir, sebenernya apa kita benar-benar paham alasan kenapa kita ingin kuliah, alasan kenapa kita ingin masuk suatu universitas, alasan kenapa kita memilih satu jurusan. Sampai satu titik gue menyadari bahwa bukan dimana kita belajarlah yang menjadi masalah. Bukan seberapa terkenalkah kampus kita. Bukan mahal atau murahnya biaya kuliah kita. Tetapi apakah kita bisa menjadi berprestasi dimana kita kuliah.

Jadi buat adik-adik kelas XII, semoga kalian bisa memilih dengan tepat. Dan good luck!